Tragedi Banjir Sumut-Aceh-Sumbar: 303 Tewas, Akses Darat Lumpuh!

Korban jiwa akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh terus bertambah, mencapai angka 303. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama segenap elemen pemerintah daerah, TNI, Polri, serta relawan, bahu-membahu memfokuskan diri pada pencarian dan penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi, pembukaan akses ke wilayah-wilayah yang terisolasi, serta percepatan distribusi logistik, baik melalui jalur darat maupun udara.

Rincian jumlah korban meninggal dunia mencakup 166 jiwa di Sumut, 47 jiwa di Aceh, dan 90 jiwa di Sumbar. Khusus di Sumut, 143 orang masih dinyatakan hilang, dengan dampak paling parah dirasakan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.

“Sumatra Utara saat ini mencatat 166 jiwa meninggal dunia. Dalam sehari terakhir, jumlah korban jiwa bertambah 60 berkat operasi pencarian dan pertolongan yang dilakukan tim gabungan di bawah koordinasi Basarnas. Selain itu, 103 jiwa masih dalam pencarian,” jelas Suharyanto, Kepala BNPB, seperti dikutip dari keterangan tertulis pada Minggu (30/11).

Sementara itu, ribuan warga terpaksa mengungsi di berbagai lokasi pengungsian akibat kerusakan parah pada permukiman mereka dan terputusnya aksesibilitas. Jumlah pengungsi mencapai ribuan jiwa di Tapanuli Selatan dan Kota Sibolga, serta ratusan hingga ribuan kepala keluarga di Mandailing Natal, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan.

Bantuan Mendesak Disalurkan Melalui Udara

Kerusakan infrastruktur transportasi menjadi kendala utama dalam penanganan bencana ini. Jalur nasional Sibolga–Padang Sidempuan dan Sibolga–Tarutung mengalami kerusakan total dan tertutup longsor di banyak titik. Beberapa jembatan, termasuk Jembatan Pandan dan jembatan di ruas Sibolga–Manduamas, juga dilaporkan putus.

Sejumlah jalur kabupaten juga mengalami nasib serupa, terputus dan belum dapat diperbaiki karena kondisi medan yang berat. Di Mandailing Natal, setidaknya tujuh wilayah terisolasi akibat tertutupnya jalur lintas provinsi. Beberapa desa bahkan hanya dapat dijangkau dengan menggunakan alat berat atau transportasi udara.

Guna mempercepat penanganan, BNPB dan kementerian/lembaga terkait telah mengerahkan berbagai alutsista, termasuk lima helikopter bantuan yang ditempatkan di Bandara Silangit. Helikopter-helikopter ini bertugas mendistribusikan logistik ke Tapanuli Tengah dan wilayah-wilayah lain yang terisolasi.

“Contohnya, Sibolga, hingga hari ketiga penanganan darurat, belum bisa kita tembus melalui jalur darat. Namun, kita sudah berhasil menjangkaunya melalui udara untuk pendistribusian logistik,” imbuh Suharyanto.

Data Korban Meninggal di Aceh Berpotensi Bertambah

Pada hari kedua pascapenetapan status tanggap darurat bencana di Provinsi Aceh, tercatat 47 korban meninggal dunia, 51 orang hilang, serta 8 orang luka-luka. Jumlah pengungsi mencapai 48.887 kepala keluarga yang tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi tertinggi di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.

“Untuk wilayah Aceh, terdapat 47 korban meninggal, kemudian 51 masih hilang dan 8 luka-luka. Data ini kemungkinan akan terus berkembang, seiring dengan operasi SAR gabungan yang terus berupaya menemukan korban,” terang Suharyanto.

Kerusakan parah pada jembatan dan jalan nasional berdampak signifikan pada terputusnya akses utama, termasuk jalur Banda Aceh–Lhokseumawe serta jalur perbatasan Aceh–Sumatera Utara di Aceh Tamiang. Hingga saat ini, beberapa daerah seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah masih belum dapat diakses melalui jalur darat.

BNPB telah mengaktifkan dukungan komunikasi darurat menggunakan jaringan satelit Starlink di sejumlah titik, terutama di wilayah-wilayah yang terisolir jaringan komunikasi. Pengiriman logistik dilakukan melalui udara menggunakan helikopter dan pesawat Cessna Caravan untuk menjangkau daerah-daerah yang tidak dapat diakses melalui jalur darat.

Bantuan dari Presiden berupa alat komunikasi, tenda, genset, perahu karet, makanan siap saji, dan perlengkapan keluarga telah tiba di Aceh dan sebagian besar telah didistribusikan ke 17 kabupaten/kota terdampak. Dua helikopter BNPB juga telah dikerahkan dari Bandara Sultan Iskandar Muda untuk mendukung distribusi ke titik-titik kritis.

Puluhan Ribu Warga Sumbar Mengungsi Akibat Banjir dan Longsor

Dua hari setelah penetapan status tanggap darurat bencana di Provinsi Sumatera Barat, tercatat 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 orang mengalami luka-luka. Kabupaten Agam mencatat jumlah korban tertinggi.

“Korban jiwa tercatat 90 meninggal dunia, 85 hilang dan 10 luka-luka,” jelas Suharyanto.

Data sementara menunjukkan sebanyak 11.820 kepala keluarga atau sekitar 77.918 jiwa mengungsi, terutama di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Sejumlah jalur provinsi dan nasional terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan, sehingga menyulitkan akses distribusi bantuan. Meskipun demikian, logistik dari Padang Pariaman dan Pesisir Selatan telah tiba, dan delapan titik tambahan dalam proses pengiriman dengan pengawalan kepolisian.

BNPB telah menempatkan 24 personel untuk mendampingi percepatan penanganan bencana di Sumatera Barat. Bantuan darurat dari Presiden RI berupa alat komunikasi, genset, tenda, LCR (perahu karet), dan ribuan dus makanan siap saji telah tiba di Bandara Minangkabau. Pesawat Caravan serta helikopter Bell 505 juga telah dikerahkan untuk mendukung distribusi ke wilayah-wilayah yang belum dapat diakses melalui darat.

BNPB menegaskan bahwa seluruh upaya penanganan darurat terus dipercepat melalui koordinasi erat dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, TNI, Polri, dan para relawan. Percepatan pembukaan akses, pendataan lanjutan korban dan kerusakan, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak menjadi prioritas utama dalam operasi penanganan bencana di ketiga provinsi tersebut.

Ringkasan

Bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat telah menyebabkan 303 korban jiwa dan ribuan pengungsi. BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan fokus pada pencarian korban, pemenuhan kebutuhan dasar, pembukaan akses terisolasi, serta distribusi logistik melalui darat dan udara. Kerusakan infrastruktur transportasi menjadi kendala utama, menyebabkan beberapa wilayah hanya dapat dijangkau melalui udara.

Di Sumut, korban meninggal mencapai 166 jiwa dengan 143 hilang, sementara Aceh mencatat 47 korban meninggal dan 51 hilang. Sumbar melaporkan 90 korban meninggal dan 85 hilang. Bantuan mendesak disalurkan melalui udara karena jalur darat terputus. BNPB telah mengaktifkan dukungan komunikasi darurat dan mendistribusikan bantuan dari Presiden ke wilayah terdampak.

You might also like