MNCDUIT.COM JAKARTA. Nilai tukar rupiah menunjukkan kinerja positif yang signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Kamis (2/10), rupiah tercatat menguat sebesar 0,22% secara harian, mencapai posisi Rp 16.598 per dolar AS. Penguatan ini juga tercermin pada kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI), di mana rupiah naik 0,41% secara harian ke level Rp 16.612 per dolar AS, menandakan momentum positif di pasar valuta asing.
Berbagai sentimen global turut memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satu faktor utama yang disoroti oleh pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, adalah potensi shutdown pemerintah AS. Situasi ini diperkirakan akan menyebabkan penutupan operasional federal setidaknya selama tiga hari, mengganggu berbagai layanan penting di seluruh negeri. Dengan sedikitnya kemajuan yang terlihat di Senat untuk mencapai konsensus mengenai rancangan undang-undang pengeluaran, Ibrahim memperingatkan bahwa penutupan yang berkepanjangan dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap perekonomian AS.
Lebih lanjut, Ibrahim juga menyoroti ancaman Presiden Donald Trump untuk memecat lebih banyak pegawai federal, yang berpotensi memperburuk kondisi sektor tenaga kerja AS. Dampak langsungnya adalah penundaan rilis data penggajian nonpertanian yang krusial, yang awalnya dijadwalkan pada Jumat, kini diperkirakan baru akan diumumkan minggu depan. Meskipun demikian, pasar tetap optimistis terhadap kemungkinan pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve, mengingat data penggajian swasta yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan adanya pendinginan lebih lanjut di pasar tenaga kerja.
Dari sisi domestik, rupiah mendapatkan dukungan dari langkah-langkah pemerintah. Ibrahim Assuaibi mencatat adanya pengumuman sejumlah stimulus tambahan yang akan digulirkan pada kuartal akhir tahun ini. Stimulus ini bertujuan untuk memperkuat laju pertumbuhan ekonomi nasional. Beberapa program akselerasi telah mulai dijalankan, termasuk program magang untuk fresh graduate yang akan dibuka pada 15 Oktober melalui platform SIAP kerja, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas dan dorongan ekonomi.
Melihat perkembangan tersebut, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah pada Jumat (3/10) akan bergerak fluktuatif. Namun, ia memperkirakan rupiah akan tetap ditutup menguat, bergerak dalam rentang Rp 16.560 – Rp 16.600 per dolar AS. Proyeksi ini mencerminkan harapan akan berlanjutnya tekanan pada dolar AS dan dukungan dari kebijakan domestik.
Sementara itu, Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen risk on di pasar global. Menurutnya, para investor cenderung mengabaikan kekhawatiran atas shutdown pemerintah AS. Tekanan terhadap dolar AS semakin kuat menyusul data pekerjaan ADP yang sangat buruk yang dirilis semalam. Dengan tidak adanya data ekonomi signifikan dari domestik pada esok hari, Lukman memperkirakan rupiah berpotensi terus menguat, didukung oleh sentimen risk on yang dominan. Ia memproyeksikan pergerakan rupiah berada di rentang Rp 16.550 – Rp 16.650 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar AS, mencapai Rp 16.598 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (2/10) dan Rp 16.612 menurut kurs referensi Jisdor BI. Penguatan ini dipengaruhi sentimen global seperti potensi *shutdown* pemerintah AS dan data penggajian swasta yang menunjukkan pendinginan pasar tenaga kerja, serta dukungan domestik dari pengumuman stimulus tambahan pemerintah di kuartal akhir tahun untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Para analis memproyeksikan rupiah akan melanjutkan penguatan pada Jumat (3/10). Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat dalam rentang Rp 16.560 – Rp 16.600 per dolar AS. Sementara itu, Lukman Leong menyebut sentimen *risk on* global dan data pekerjaan ADP yang buruk menekan dolar AS, memproyeksikan rupiah di rentang Rp 16.550 – Rp 16.650.