Reksadana Saham Meroket! Prospek Investasi Terbaik 2024?

MNCDUIT.COM – JAKARTA. Akhir tahun 2025 menjadi panggung gemilang bagi reksadana saham, yang mencatatkan kinerja memukau dan mengungguli jenis investasi lainnya.

Data dari Infovesta menunjukkan bahwa reksadana saham berhasil mencetak *return* sebesar 17,32% hingga November 2025. Lebih menarik lagi, terjadi lonjakan signifikan sebesar 9,51% secara bulanan (*month-on-month*). Di antara berbagai produk reksadana, Victoria Prime Equity Fund dari PT Victoria Manajemen Investasi (VMI) tampil sebagai bintang dengan *return* fantastis mencapai 44,69% hanya dalam satu bulan, dari Oktober ke November.Img AA1RyPLc

Menurut *fund fact sheet* Victoria Prime Equity Fund, alokasi dana investasi ini sangat agresif, dengan 80%-100% dana ditempatkan di saham. Sisanya, 0%-20%, dialokasikan untuk kas dan efek lainnya. Komposisi portofolio aktualnya pun menunjukkan dominasi saham, yakni 98,62%, diikuti kas dan setara kas sebesar 1,32%, serta sedikit obligasi sebesar 0,06%.

Lantas, saham-saham apa saja yang menjadi andalan Victoria Prime Equity Fund? Top 10 komposisi efek dalam portofolionya meliputi saham APIC, BHAT, BOGA, CASA, BACA, CARE, CNKO, BPTR, BTEK, dan ASMI.

Menilik Rotasi Sektoral Menjelang Aksi Window Dressing di Akhir Tahun

Reza Fahmi, Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), berpendapat bahwa kinerja positif pasar saham domestik pada tahun 2025, terutama di sektor perbankan dan komoditas, menjadi pendorong utama kinerja reksadana saham. Namun, ia mengingatkan bahwa pemilihan portofolio reksadana untuk tahun depan perlu mempertimbangkan arah ekonomi dan suku bunga. “Reksadana saham tetap menjadi opsi menarik bagi investor dengan profil agresif, tetapi mereka harus siap dengan investasi jangka panjang,” kata Reza kepada Kontan, Selasa (2/12).

Lebih lanjut, Reza melihat potensi reksadana pendapatan tetap sebagai pilihan defensif di tahun 2026. Hal ini didasarkan pada ekspektasi stabilitas atau bahkan penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI), yang dapat mendorong kenaikan harga obligasi. Ia juga menyoroti pentingnya reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas, sementara reksadana campuran dinilai ideal untuk diversifikasi antara saham dan obligasi.

“Untuk tahun 2026, kami memperkirakan reksadana pendapatan tetap dan campuran akan menjadi pilihan yang menarik, mengingat prospek penurunan suku bunga dan kebutuhan diversifikasi di tengah dinamika pasar yang ada,” ungkap Reza. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa reksadana saham tetap layak dipertimbangkan bagi investor yang berani mengambil risiko volatilitas demi potensi imbal hasil yang lebih tinggi.

Ringkasan

Reksadana saham mencatatkan kinerja yang sangat baik hingga November 2025, dengan *return* rata-rata sebesar 17,32%. Salah satu reksadana saham yang menonjol adalah Victoria Prime Equity Fund yang dikelola oleh PT Victoria Manajemen Investasi (VMI), yang mencetak *return* sebesar 44,69% hanya dalam satu bulan. Investasi reksadana saham ini terutama dialokasikan pada saham-saham seperti APIC, BHAT, BOGA, dan lainnya.

Menurut Reza Fahmi dari Henan Putihrai Asset Management (HPAM), kinerja reksadana saham didorong oleh performa sektor perbankan dan komoditas. Untuk tahun 2026, reksadana pendapatan tetap dan campuran diprediksi akan menarik karena prospek penurunan suku bunga dan kebutuhan diversifikasi, namun reksadana saham tetap menjadi pilihan bagi investor dengan profil risiko agresif.

You might also like