Rapor pasar saham 2025: IHSG menguat 22,15% YTD, tumbuh tapi keropos?

Img AA1TknZa

MNCDUIT.COM JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan 2025 dengan menanjak 22,13% ke level 8.646,93. Analis menilai minimnya dorongan dari saham keluarga blue chip tampaknya membuat penguatan IHSG itu sedikit rapuh.

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai pertumbuhan IHSG 2025 tersebut tergolong rapuh. Indikatornya, ada ketimpangan antara pergerakan harga saham-saham blue chips dengan saham tier-2 dan 3.

“Kenaikan IHSG lebih dari 20% YtD mencerminkan narrow rally yang ditopang saham lapis kedua dan ketiga, bukan blue chip. Likuiditas domestik dan ritel mendominasi, masuk ke saham ber-free float kecil dan likuiditas tipis yang mudah digerakkan,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Rabu (31/12/2025).

Merujuk statistik BEI, LQ45 sejak awal tahun hanya naik 2,41% YtD, begitu pula dengan IDX30 yang hanya tumbuh 3,25% YtD. Di sisi lain, IDX SMC Composite melesat 57,28% YtD.

: Jatuh Bangun IHSG hingga Cetak 24 Kali Rekor ATH Sepanjang 2025

Sementara dari papan pengembangan, saham-saham dalam Main Board hanya tumbuh 12,10% YtD, timpang dengan Development Board yang melejit 111,48% YtD atau Acceleration Board yang melompat 162,81% YtD.

Sukarno menganalisa, saham-saham LQ45 dan IDX30 tertahan oleh valuasi yang relatif mahal, pertumbuhan laba moderat, dan minimnya katalis sektor perbankan dan konsumer besar.

“Secara struktur, pasar terlihat kuat, namun rapuh dari sisi kualitas penggerak,” tegasnya.

Sementara pada perdagangan 2026 nanti, Sukarno menilai akan terjadi fase mean reversion bagi LQ45 dan IDX30 seiring normalisasi valuasi, stabilitas makro, dan potensi kembalinya dana institusi ke saham likuid dan berfundamental kuat. Namun, menurutnya reli tidak akan menyeluruh. 

“Tanpa akselerasi laba, penguatan blue chip cenderung bertahap. Risiko utama tetap pada dominasi spekulasi small caps dan volatilitas global,” jelasnya.

Menurutnya, keputusan regulator untuk membuat kebijakan demutualisasi Bursa Efek Indonesia dan penyesuaian ketentuan free float adalah langkah struktural yang tepat untuk memperbaiki tata kelola, transparansi, dan price discovery. Kebijakan ini juga berpotensi menekan praktik manipulatif dan memperluas basis investor. 

“Namun, dampaknya tidak instan dan sangat bergantung pada konsistensi penegakan aturan serta kualitas keterbukaan emiten,” tandasnya.

Sepanjang 2025, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menjadi pemimpin daftar top leaders dengan pertumbuhan harga 172,97% YtD dan memiliki bobot 246,67 poin pada penguatan IHSG dalam setahun. Sebaliknya, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi pemimpin teratas daftar top laggards dengan harga yang terkoreksi 16,54% YtD dan memiliki bobot pemberat IHSG sebesar 97,39 poin.

Sementara itu, jika menilik rapor investor asing, tercatat net sell sebesar Rp17,34 triliun sepanjang 2025. Porsi investor asing dalam nilai transaksi pasar saham sepanjang 2025 sebesar 36%, dibanding 64% investor domestik.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

You might also like