
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tahun Baru Imlek akan segera tiba, menandai peralihan dari Tahun Ular Kayu menuju Tahun Kuda Api.
Founder Feng Shui Consulting Indonesia, Yulius Fang, menilai tahun 2026 sebagai tahun yang penuh momentum namun tetap membutuhkan kedisiplinan dalam mengelola keuangan.
Menurutnya,Tahun Kuda Api membawa energi optimisme dan pergerakan cepat, namun kunci keberhasilan justru ada pada strategi yang tenang dan bertahap. Ia menyarankan agar investor sebaiknya mengatur cash flow dengan baik, menghindari overconfidence dan fokus pada pertumbuhan yang konsisten.
“Slow and steady win the race, melangkah mantap menuju kemajuan akan memberikan hasil yang lebih berkelanjutan,” kata Yulius dalam acara Market Outlook 2026 BRI Danareksa Sekuritas di Jakarta, Jumat (13/2).
Prima Multi (PMUI) Lepas 80% Saham Graha Prima (GRPM) ke Grup Rimau, Ini Detailnya
Yulius menilai peluang bisnis yang menjanjikan pada Tahun Kuda Api terutama berasal dari sektor yang berelemen air, kayu, tanah, dan api, sementara sektor dengan elemen logam diperkirakan menghadapi tantangan yang lebih besar.
Secara lebih rinci, elemen air mencakup usaha di bidang minuman, kafe, pariwisata, perhotelan, transportasi, pelayaran, perikanan, perangkat lunak, media online, laundry, serta berbagai bisnis jasa.
Sementara itu, elemen kayu meliputi industri tekstil dan fesyen, layanan kesehatan, kehutanan dan perkebunan, furnitur, percetakan, alat tulis, produk berbasis kayu, jasa kurir, ekspedisi dan logistik, pergudangan, obat tradisional, serta eceran.
Untuk elemen tanah, sektor yang termasuk di dalamnya antara lain properti, infrastruktur, konstruksi, perbankan, asuransi konvensional, perdagangan kebutuhan pokok, barang konsumsi, peternakan, produk kulit, hingga perdagangan grosir.
Adapun elemen api mencakup bisnis restoran, energi dan bahan bakar, industri kimia, teknologi kecerdasan buatan, gim, sekuritas, pendidikan, pertunjukan dan hiburan, industri kecantikan, penerbangan, kelistrikan, periklanan, fotografi, hingga asuransi modern.
Sementara itu, elemen logam mencakup sektor otomotif, elektronik, komputer, mesin dan alat berat, layanan keuangan dan fintech, perdagangan valuta asing, perhiasan, pertambangan mineral, industri logam, farmasi, telekomunikasi, musik, layanan hukum, kosmetik, serta usaha salon.
Khusus untuk pasar saham, Yulius memperkirakan bursa domestik masih berpotensi mengalami koreksi hingga semester pertama 2026, sebelum memasuki fase bullish yang diproyeksikan berlangsung hingga akhir tahun.
Oleh Karena itu, ia menyarankan investor tetap melakukan diversifikasi portofolio investasi, dengan alokasi sekitar 40% pada saham, 30%–40% pada emas, serta 20%–30% pada obligasi.
Secara terpisah, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan transisi dari siklus Ular yang penuh kehati-hatian menuju Kuda Api yang eksplosif menandai titik infleksi bagi pasar modal Indonesia.
Di tengah residu volatilitas akibat tantangan transparansi dan friksi regulasi, tahun 2026 hadir bukan sekadar sebagai pergantian kalender, melainkan sebuah katalis pembaruan.
“Kita mengantisipasi gelombang reformasi struktural yang akan merekalibrasi pondasi pasar, mengubah tantangan tata kelola menjadi momentum penguatan integritas pasar,” kata Liza kepada Kontan, Jumat (13/2/2026).
Liza juga mengatakan Tahun Kuda Api bukan lagi saatnya melakukan konsolidasi secara pasif. Pasar akan didominasi oleh entitas yang berani mengambil peluang dan memperluas ruang geraknya.Proyek yang memiliki narasi masa depan serta prospek pertumbuhan yang kuat akan memperoleh valuasi premium.
“Di tahun Kuda Api, diam di tempat adalah risiko terbesar. Bergerak cepat atau akan tersapu oleh laju pasar,” ucapnya.
Dari sisi elemen, api melambangkan transformasi, volatilitas dan eksposur terhadap risiko. Sementara zodiak kuda melambangkan kecepatan, ekspansi dan kompetisi.
Di tahun Kuda Api, strategi buy and hold tradisional akan tergerus oleh inflasi dan volatilitas. Pasar diperkirakan bergerak dalam rotasi sektor yang sangat cepat. Keuntungan maksimal dapat diraih melalui strategi active rebalancing dan pemanfaatan momentum pasar.
“Sinergi elemen di mana kayu berfungsi sebagai bahan bakar bagi api. Ini menciptakan siklus pertumbuhan agresif bagi sektor-sektor yang berbasis pada ekspansi cepat dan skalabilitas,” tambahnya.
Liza juga menambahkan Tahun 2026 menuntut pergeseran radikal dari strategi pasif menuju agresivitas stock picking. Pasar tidak lagi bergerak serentak, melainkan didominasi oleh emiten dengan narasi pertumbuhan kuat dan likuiditas tinggi sebagai indikator utama. Dalam lanskap yang berorientasi pada momentum ini, sektor defensif kehilangan daya tariknya sebagai mesin pertumbuhan, beralih fungsi semata-mata sebagai instrumen lindung nilai untuk meredam volatilitas.
“Tahun ini bukan panggung bagi mereka yang mencari rasa aman, melainkan bagi mereka yang memiliki ketajaman membaca momentum. Di bawah naungan Kuda Api, diam berarti tertinggal,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan, pemenang tahun ini bukanlah portofolio yang paling defensif, tetapi yang paling cepat beradaptasi dengan arah angin volatilitas. Strategi Exit sama krusialnya dengan entry. Jangan biarkan euforia menghapus realisasi keuntungan.
Prima Multi (PMUI) Lepas 80% Saham Graha Prima (GRPM) ke Grup Rimau, Ini Detailnya