Prospek saham maskapai melejit jelang mudik Lebaran 2026, simak rekomendasi analis

Img AA1vMWd9

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek saham emiten maskapai penerbangan diperkirakan membaik menjelang musim mudik Lebaran 2026 seiring meningkatnya permintaan perjalanan udara selama periode Ramadan hingga Idulfitri.

Namun, analis menilai perbaikan kinerja laba masih menghadapi tantangan dari sisi biaya operasional dan struktur keuangan.

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, secara bisnis emiten maskapai seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) sama-sama berpotensi mencatat kenaikan trafik selama periode Lebaran. Peningkatan load factor dan frekuensi penerbangan biasanya langsung mendorong pertumbuhan pendapatan.

“Periode mudik Lebaran berpotensi mendorong revenue maskapai sekitar 10% hingga 15% secara kuartalan, dengan dampak yang relatif lebih kuat pada CMPP,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).

Data PDB AS Melemah, Begini Proyeksi Rupiah untuk Senin (23/2/2026)

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa lonjakan permintaan tidak otomatis memperbaiki profitabilitas. Tekanan biaya seperti avtur, sewa pesawat, perawatan, serta pelemahan nilai tukar masih menjadi faktor penentu kinerja akhir.

Menurut Sukarno, model bisnis low cost carrier yang dijalankan CMPP memberikan operating leverage lebih tinggi saat volume penumpang meningkat. Sebaliknya, GIAA masih menghadapi tekanan dari sisi leverage dan biaya, sehingga perbaikan laba cenderung lebih terbatas.

Pandangan serupa disampaikan Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan. Ia menilai momentum Ramadan dan Lebaran memang menjadi peak season bagi industri penerbangan karena kenaikan volume penumpang dan peluang penyesuaian harga tiket di sejumlah rute.

“Dampaknya paling cepat terlihat pada pendapatan, baik dari tiket maupun layanan non-inti (ancillary revenue). Tetapi pasar tetap melihat apakah kenaikan trafik ini diikuti perbaikan margin,” jelasnya.

Ekky menambahkan, tambahan pendapatan berisiko tergerus apabila harga avtur meningkat atau kurs rupiah melemah, mengingat sebagian besar komponen biaya maskapai berbasis dolar AS.

Dari sisi pergerakan saham, perbedaan kinerja antara GIAA dan CMPP dinilai mencerminkan persepsi risiko investor. CMPP cenderung dipandang lebih cepat menikmati pemulihan permintaan penerbangan karena struktur biaya yang lebih fleksibel.

Sementara itu, tekanan pada saham GIAA dinilai mencerminkan risk premium yang masih tinggi serta terbatasnya visibilitas perbaikan laba.

“Momentum Lebaran berpotensi menjadi katalis lanjutan bagi CMPP, sedangkan GIAA lebih ke peluang rebound teknikal dan tetap sensitif terhadap sentimen,” kata Ekky.

Untuk strategi investasi, Sukarno merekomendasikan speculative buy pada GIAA dengan target harga Rp 90 hingga Rp 94 per saham. Adapun CMPP dinilai masih menarik dengan target harga Rp 95 hingga Rp 98 per saham.

IHSG Melemah, Intip Saham-Saham yang Banyak Diborong Asing Sepekan Terakhir

Secara keseluruhan, analis melihat momentum musiman Lebaran dapat menjadi pendorong jangka pendek bagi saham maskapai. Namun, arah kinerja jangka menengah tetap akan sangat bergantung pada pengendalian biaya serta perbaikan struktur keuangan emiten.

“Permintaan naik memang membantu, tetapi keberlanjutan kinerja tetap ditentukan efisiensi dan kondisi biaya,” tutup Ekky.

You might also like