Permintaan CPO masih tinggi, emiten sawit diproyeksi prospektif pada 2026

Img AA1REWbb

MNCDUIT.COM JAKARTA. Kinerja emiten sawit masih prospektif meskipun ada sejumlah sentimen negatif yang membayangi.

Salah satunya berasal dari penundaan implementasi biodiesel B50 yang seharusnya sudah diterapkan di awal tahun 2026. Padahal, kebijakan B50 menjadi salah satu pendorong sentimen positif untuk kinerja emiten crude palm oil (CPO).

Di sisi lain, Pemerintah resmi menaikkan pungutan ekspor (PE) kelapa sawit menjadi 12,5% dari sebelumnya 10%. Kebijakan ini akan berlaku mulai pertengahan tahun 2026 untuk menopang implementasi biodiesel B40 sekaligus menjaga keberlanjutan pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, penundaan B50 dan kenaikan pajak ekspor CPO 12,5% sebagai sentimen negatif jangka pendek.

“Ini bisa menekan margin dan menghilangkan tambahan permintaan domestik. Namun, dampaknya terbatas karena B40 tetap berjalan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

IHSG Berpotensi Bergerak Terbatas pada Senin (9/2), Ini Kata Analis

Di tahun 2026, Azis melihat, potensi perbaikan kinerja masih ada. Ini lantaran kebijakan B40 juga masih berjalan dan menjaga average selling price (ASP) para emiten sawit.

“Di sisi lain konsumsi dalam negeri juga masih bisa meningkat, mengingat mendekati Idul Fitri serta Ramadan yang bisa membuat konsumsi juga naik,” ungkapnya.

Secara valuasi, saham emiten CPO masih relatif undervalue. Namun, investor masih perlu mencermati arah kebijakan biodiesel, pajak ekspor, pergerakan harga CPO global, serta isu ESG.

Azis pun merekomendasikan trading buy untuk PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) dengan target harga Rp 1.820 – Rp 1.840 per saham.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe melihat, penundaan kebijakan B50 tidak akan mengganggu permintaan CPO. Di sisi lain, produksi sawit secara nasional juga diperkirakan hanya tumbuh sekitar 1% dibandingkan tahun 2025.

“Artinya, ini masih bisa menjaga harga di kisaran MYR 4.200 – MYR 4.500 per ton sepanjang tahun ini,” ungkapnya kepada Kontan, Jumat.

Di tahun 2026, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dilihat masih akan menjadi jawara jika dibandingkan dengan emiten CPO lainnya. Ini didorong dari usia tanaman sawit mereka yang ada di masa produktif.

Sayangnya, valuasi saham TAPG dan DSNG saat ini masih mahal. Melansir RTI, TAPG memiliki price to earning ratio (PER) 8,36x dan DSNG punya PER 8,69x. Price to book value (PBV) TAPG sebesar 2,67x dan DSNG 1,42x.

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Senin (9/2), Ini Rekomendasi Analis

Alhasil, Kiswoyo pun merekomendasikan beli untuk AALI dan LSIP dengan target harga masing-masing di Rp 9.000 per saham dan Rp 1.500 per saham sampai akhir 2026. “PBV keduanya masih di bawah 1x, yaitu AALI 0,63x dan LSIP 0,59x,” tuturnya.

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila melihat, penundaan implementasi B50 bisa membuat ASP CPO bisa turun dan memengaruhi margin.

Namun, jika permintaan masih tinggi, dari India dan China misalnya, kinerja CPO masih bisa tertopang di tahun 2026.

“Kondisi suplai CPO juga masih harus dipantau pasca musim hujan saat ini, apakah bisa menopang jumlah permintaan,” katanya kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Ke depan, kinerja emiten CPO di tahun 2026 masih bisa tumbuh moderat. Satu-satunya penopang kinerja mereka di tahun ini adalah permintaan untuk biodiesel yang masih cukup kuat sepanjang tahun ini.

Indy pun menyarankan investor untuk memerhatikan saham DSNG dan TAPG dengan target harga masing-masing Rp 1.710 per saham dan Rp 1.700 per saham.

You might also like