Minat investor terhadap SBN terbatas, imbal hasil dinilai kurang kompetitif

Img AA1Dgrfv

MNCDUIT.COM – JAKARTA. Minat investor ritel terhadap Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan masih terbatas. Hal ini terlihat dari rendahnya serapan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI029, yang baru mencapai 53,36% dari target pemerintah sebesar Rp 25 triliun.

Ekonom Yanuar Rizky menilai, berkurangnya minat investor dipengaruhi oleh tingkat kupon yang dianggap kurang menarik bila dibandingkan dengan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta kenaikan harga emas.

Menurut Yanuar, kondisi ini membuat investor memiliki alternatif instrumen yang lebih menguntungkan, sehingga minat terhadap surat utang negara menjadi terbatas.

Dari sisi imbal hasil, ORI029 menawarkan kupon dengan skema bunga tetap (fixed rate). Untuk tenor tiga tahun, ORI029T3 memberikan kupon sebesar 5,45% per tahun, sedangkan ORI029T6 dengan tenor enam tahun menawarkan kupon lebih tinggi sebesar 5,80% per tahun.

Hingga Akhir Masa Penawaran, Penjualan SBN Ritel ORI029 Baru Terserap 57,9%

“Bunga nya tidak menarik, dibandingkan pelemahan rupiah atas dolar AS dan penguatan harga emas,” tutur Yanuar kepada Kontan, Selasa (24/2/2026).

Sejalan dengan itu, realisasi pembiayaan utang pemerintah hingga 31 Januari 2026 tercatat sebesar Rp 105,06 triliun, atau turun sekitar 17% year on year (yoy).

Yanuar memprediksi tren minat investor terhadap penerbitan obligasi pemerintah masih akan menghadapi tekanan. Hal ini seiring dengan persepsi pasar terhadap kondisi fiskal yang dinilai belum cukup kuat untuk memberikan keyakinan.

Ia menambahkan, kebutuhan pembiayaan yang besar di awal tahun (front loading) untuk menutup arus kas defisit membuat pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan investor domestik sebagai pembeli siaga (standing buyer). Dalam kondisi tersebut, peran investor asing menjadi sangat penting.

Namun demikian, untuk menarik minat investor asing, pemerintah perlu menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif.

Tekanan Jual Asing di SBN Dipicu Ketidakpastian Global, Namun Bersifat Jangka Pendek

Lebih lanjut, Yanuar menekankan tantangan utama berada pada kredibilitas pengelolaan fiskal pemerintah. Di tengah penerimaan negara yang mengalami tekanan, peningkatan belanja negara akan berdampak pada kebutuhan pembiayaan melalui utang.

“Termasuk soal belanja yang terus digenjot seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) di saat penerimaan turun, maka mengatasinya dengan utang, ya akan berhadapan dengan wajah fiskal pemerintah itu sendiri,” tandasnya.

Dengan kondisi ini, rencana penerbitan obligasi dengan denominasi Chinese Yuan Offshore (CNH) dan Euro (EUR) senilai US$ 10 miliar berpotensi menarik minat pasar, jika disertai dengan penawaran imbal hasil yang kompetitif serta didukung oleh persepsi fiskal yang kredibel.

You might also like