MNCDUIT.COM – JAKARTA. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) diperkirakan akan melanjutkan kebijakan dividennya ke depan. Bisnis batubara yang menopang kinerja perseroan akan menentukan keberlanjutan pembagian dividen kepada pemegang saham.
Timothy Handerson, Analis UBS Sekuritas Indonesia mencatat bahwa ADRO mengumumkan dividen interim sebesar US$ 250 juta pada bulan Desember 2025. Hal itu menyiratkan pembayaran sebesar 83% dari laba bersih sembilan bulan pertama tahun 2025 dan imbal hasil 8% berdasarkan harga penutupan pada tanggal pengumuman, melampaui ekspektasi pasar.
“Kami memperkirakan kebijakan dividen yang besar akan berlanjut,” jelas Timothy dalam risetnya pada 19 Januari 2026.
Timothy melihat kebijakan dividen berlanjut mengingat kas bersih sebesar US$ 950 juta pada kuartal ketiga tahun 2025 (sekitar 25% dari kapitalisasi pasar). Ini di samping kebijakan pembelian kembali (buyback) saham yang sedang berlangsung, yang menurut Timothy belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Lebih lanjut Timothy menyoroti Kementerian ESDM yang mengungkapkan rencana untuk menurunkan volume produksi batubara Indonesia menjadi 600 juta ton. Rencana tersebut merupakan risiko penurunan terhadap laba per saham (EPS) ADRO. Analisis sensitivitas UBS Sekuritas menunjukkan penurunan EPS sebesar 7% sampai 10% dengan skenario pengurangan volume 25%, peningkatan harga jual rata-rata (ASP) 25%, dan bea ekspor 2,5% sampai 5%, sebagian besar disebabkan oleh kontribusi volume kontrak pertambangan yang lebih rendah.
Namun, Timothy mencatat target produksi belum disetujui secara resmi. Penambang diizinkan untuk mengajukan revisi ke atas kuota produksi di pertengahan tahun dan produksi cenderung melampaui target pemerintah sekitar 10%. Hal ini menunjukkan dampaknya mungkin jauh lebih kecil daripada yang ditunjukkan oleh angka-angka utama.
“Kami pikir risiko penurunan dapat dikelola, terutama mengingat kapitalisasi pasar saat ini menyiratkan nilai nol untuk bisnis kontraktor pertambangannya, menurut pandangan kami,” ucap Timothy.
Vinna N Rachmawati, Analis Phintraco Sekuritas memproyeksikan harga batubara tahun 2026 tetap stabil dikisaran US$ 100 – US$ 106 per ton. Pembentukan harga didukung oleh permintaan yang stabil dari Tiongkok dan India untuk pembangkit listrik dan penggunaan industri.
Permintaan batubara metalurgi global pada tahun 2026 diperkirakan relatif stabil di sekitar 385 juta – 390 juta metrik ton (Mt), dengan impor yang lebih tinggi dari India mengimbangi perlambatan awal dari Tiongkok. Dengan demikian, harga batubara metalurgi pada tahun 2026 diperkirakan akan diperdagangkan dalam kisaran stabil US$ 170 – US$ 200 per ton, dengan potensi kenaikan yang terbatas.
“Untuk batubara termal global, harga diperkirakan akan berkisar sekitar US$ 105 – US$ 120 per ton, dengan risiko kenaikan jika permintaan Asia tetap kuat atau terjadi gangguan pasokan, dan risiko penurunan jika transisi energi mempercepat penurunan permintaan,” ucap Vinna dalam risetnya pada 17 Desember 2025.
Sementara di Indonesia, asosiasi industri memperkirakan harga akan tetap relatif stabil pada tahun 2026. Meskipun harga tersebut akan tetap sangat bergantung pada dinamika pasokan dan permintaan global, kebijakan pemerintah, serta kondisi cuaca dan logistik.
Raka Junico, Analis MNC Sekuritas memperkirakan harga batubara termal global tahun 2026 dikisaran US$ 130 – US$ 145 per metrik ton (mt). Prospek ini didukung lebih lanjut oleh penguatan ekspektasi harga minyak global yang diproyeksikan sebesar US$ 70 – US$ 72 per barel, yang didukung oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Mengintip Hitung-hitungan Dividen AlamTri (ADRO)
Raka juga menyoroti pengurangan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara bersamaan dengan potensi peningkatan alokasi DMO menjadi 30% untuk pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
“Diskusi pasar menunjukkan bahwa persetujuan RKAB untuk beberapa perusahaan pertambangan masih terbatas, dengan tingkat persetujuan yang dilaporkan berkisar antara 10% –20%, yang menyiratkan potensi pengurangan produksi hingga 80% dari kapasitas yang diajukan sebelumnya,” ucap Raka saat dikonfirmasi Kontan, Kamis (26/2/2026).
Timothy memproyeksikan pendapatan dan laba bersih ADRO tahun 2025 masing – masing sebesar US$ 1,90 miliar dan US$ 374 juta. Tahun 2026 pendapatan dan laba bersih ADRO diperkirakan mencapai US$ 2,81 miliar dan US$ 523 juta. Adapun pada tahun 2024, ADRO mengantongi pendapatan US$ 2,07 miliar dan laba bersih US$ 1,38 miliar.
Timothy, Vinna, dan Raka merekomendasikan Buy saham ADRO dengan target harga masing – masing Rp 3.300 per saham, Rp 2.140 per saham, dan Rp 2.600 per saham.
Dividen Interim ADRO Jumbo Awal 2026, Yield Tembus 6% dan Kalahkan Bunga Deposito