
MNCDUIT.COM Pasar modal Indonesia menunjukkan taringnya pada perdagangan Rabu (18/02/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 97,956 poin (1,19%) ke level 8.310,227.
Di balik angka penutupan yang berada di titik tertinggi harian tersebut, tersaji sebuah drama transfusi likuiditas masif dengan total nilai transaksi mencapai Rp 25,24 triliun yang melibatkan 48,35 miliar saham.
Dominasi Perbankan & Perlawanan di Sektor Komoditas
Panggung utama dikuasai oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI). Saham ini menjadi motor utama dengan kenaikan harga Rp 200 ke level Rp 5.275 per saham.
Secara anatomi, BMRI mencatatkan closing strength index (CSI) sempurna di angka 1 menandakan akumulasi agresif hingga detik terakhir perdagangan.
Jejak kaki pemodal gede terlihat sangat jelas dengan ticket size rata-rata sebesar Rp 29,82 juta, jauh melampaui median pasar.
Investor asing menyuntikkan volume net buy sebesar 128.005.600 saham, mengukuhkan BMRI sebagai benteng domestik terkuat.
Jejak Smart Money (13 Februari 2026): Berburu Saham Hidden Gems di Balik Koreksi IHSG
Nasib berbeda dialami oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI). Meski mencatatkan volume transaksi monster sebesar 10,33 miliar saham dengan nilai Rp 3 triliun, BUMI justru terkoreksi 8 poin ke Rp 284 per saham.
CSI BUMI berada di angka 0 yang berarti saham ini ditutup tepat di harga terendahnya.
Intensitas asing di BUMI cukup tinggi (33%), namun didominasi oleh aksi jual dengan foreign net flow negatif sebesar 2,41 miliar saham.
Sementara itu, PT United Tractors Tbk. (UNTR) tampil gemilang dengan kenaikan Rp 575 ke level Rp 29.975 per saham.
Serupa dengan BMRI, UNTR menutup hari dengan CSI 1, mencerminkan kepercayaan diri tinggi para manajer investasi besar di akhir sesi.
Anomali Pasar: Saham Ini Dibuang Asing, Tapi Justru Diincar Smart Money?
Hidden Gems: Perburuan Institusi dalam Senyap
Di segmen mid and small caps, terdeteksi pergerakan “Smart Money” pada beberapa emiten yang luput dari radar ritel.
PT Berkah Prima Perkasa Tbk. (BLUE) mencuri perhatian dengan kenaikan harga Rp 325 ke level Rp 6.750. Dengan ticket size mencapai Rp 16,43 juta (hampir 10 kali lipat median pasar) dan CSI tinggi 0,86, maka BLUE menjadi indikasi kuat adanya akumulasi terstruktur oleh pemain besar.
Saham lain seperti PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFIN) dan PT Cemindo Gemilang Tbk. (CMNT) juga mencatatkan CSI sempurna 1.
Fenomena ini menunjukkan adanya strategi entry bertahap oleh institusi pada saham-saham dengan fundamental spesifik di tengah euforia Big Caps.
Anatomi Market BEI (5 Februari 2026): Jejak Smart Money di Saham Lapis Dua
Saham Lapis Kedua Masih Menarik di Tengah Gejolak Pasar, Simak Rekomendasinya
Strategi Bottom Fishing
Menariknya, terdapat sekelompok saham yang harganya terkoreksi namun justru mengalami akumulasi oleh investor asing.
PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) turun 5 poin ke Rp 1.695, namun mencatatkan foreign net flow positif sebesar 21.081.000 saham. Dengan CSI yang masih bertahan di 0,72, ARCI menunjukkan adanya upaya serok bawah di tengah tekanan harga.
Pola serupa juga terlihat pada PT Panin Financial Tbk. (PNLF) dan PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON), di mana arus modal asing tetap masuk meski harga bergerak tipis di zona merah.
Penjelasan Istilah
Ticket size: Jejak Kaki Siapa di Pasar?
CSI (Closing Strength Index): Siapa yang Menang di Menit Terakhir?
CSI mengukur seberapa kuat harga penutupan sebuah saham dibandingkan dengan rentang harganya sepanjang hari itu.
Disclaimer:
Artikel ini ditulis berdasarkan Data Pasar Ringkasan Saham (18 Februari 2026) yang diunduh langsung dari laman resmi BEI dan diolah. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Pembaca diharapkan bijak sebelum mengambil keputusan investasi.