Isu MSCI tekan IHSG, MAMI: Ini justru peluang beli saham bagus

Img AA1WcBN5

MNCDUIT.COM JAKARTA. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai dinamika pasar saham Indonesia di tengah sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih berpeluang pulih, terutama bagi saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik.

Chief Investment Officer Equity MAMI, Samuel Kesuma mengatakan volatilitas yang terjadi dalam jangka pendek merupakan konsekuensi dari meningkatnya ketidakpastian global dan faktor persepsi terhadap pasar domestik.

Dalam jangka pendek, MSCI mengindikasikan potensi penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks, bahkan bisa mengubah status dari emerging market menjadi frontier market yang dapat memicu aksi jual investor asing.

Pasar SBN Dihadapkan Tekanan Penurunan Outlook Moody’s, Ini Kata ADPI

Namun, kemungkinan itu masih dipandang rendah karena pemerintah dan regulator pasar merespons dengan cepat, salah satunya adalah melalui kebijakan free float menjadi 15%.

“Saat ini skenario reklasifikasi turun ke frontier market dipandang memiliki probabilitas rendah karena respons dari regulator dan pemerintah yang cepat dan serius,” ujarnya dalam paparan Seeking Alpha MAMI edisi Februari 2026.

Di sisi lain, ketidakpastian perihal perkembangan MSCI hingga tenggat waktu Mei 2026 membuat Samuel memperkirakan fluktuasi yang tinggi di pasar saham masih akan terjadi dalam 2 hingga 3 bulan lagi.

Selain itu, ia juga mencermati minat investor asing yang rendah terhadap pasar saham Indonesia lebih condong karena faktor kualitatif sehingga memengaruhi persepsi jangka pendek mereka.

Misalnya saja, eksekusi program pemerintah yang ambisius di tengah keterbatasan ruang fiskal. Hal ini bisa dilihat dari target kenaikan penerimaan negara menjadi 14% pada tahun ini, yang melampaui rata-rata kenaikan dalam 10 tahun yang hanya berkisar 7%.

Samuel juga menyebut kepercayaan investor asing belum bisa didapat karena isu independensi bank sentral dan teguran MSCI terkait transparansi data pasar saham.

Namun, persepsi ini masih dapat pulih bergantung dengan arah kebijakan pemerintah dan komunikasinya kepada masyarakat global dan investor.

Sementara itu, untuk prospek jangka panjang pasar saham Indonesia justru dipandangnya secara positif. Menurutnya, peristiwa ini akan mempercepat reformasi bursa menjadi lebih sehat dalam jangka panjang dan mengembalikan daya tarik terhadap saham berbasis fundamental.

Oleh karenanya, Samuel menegaskan kalau MAMI akan terus berfokus mengelola portofolio pada saham-saham dengan fundamental yang solid serta dipergadangkan dalam valuasi yang  wajar dan masuk akal.

Pasar SBN Dihadapkan Tekanan Penurunan Outlook oleh Moody’s, Ini Kata Dapen BCA

Lebih lanjut, tekanan jual dalam jangka pendek dinilai membuat valuasi saham semakin menarik. Perusahaan dengan kapitalisasi besar bahkan menawarkan dividend yield yang lebih tinggi dibandingkan imbal hasil obligasi negara, sementara sebagian emiten merespons koreksi harga dengan mengumumkan aksi buyback karena menilai valuasi sahamnya berada di bawah nilai wajar.

Kemudian likuiditas investor yang sebelumnya terfokus pada saham-saham kandidat indeks MSCI diperkirakan akan beralih secara bertahap ke saham dengan katalis berbasis fundamental.

You might also like