IHSG diproyeksi melemah terbatas, cermati saham rekomendasi analis, Senin (9/2)

Img AA1VkebE

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali jatuh ke bawah level 8.000. Jumat (6/2/2026), IHSG ditutup terkoreksi 2,08% ke posisi 7.935,26. 

Dalam sepekan, IHSG anjlok hingga 4,73%, disertai aksi jual bersih (net sell) investor asing di seluruh pasar yang mencapai Rp 3,62 triliun. 

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan sentimen dari MSCI yang memberi sinyal Indonesia berpotensi turun ke kategori frontier market apabila tidak memenuhi permintaan terkait transparansi kepemilikan saham masih menjadi faktor utama yang menekan pasar.

Di luar itu, pergerakan pasar juga dipengaruhi berbagai sentimen lain, baik yang berasal dari faktor global maupun domestik.

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Kamis (5/2)

Dari global ada sentimen geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran, dimana Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan tidak langsung AS-Iran yang dimediasi Oman di Muscat berjalan sangat baik dan membuka peluang pertemuan lanjutan awal pekan depan, sejalan dengan pernyataan Iran bahwa perundingan awal berlangsung positif untuk meredam ketegangan dan menghindari konflik militer. 

Teheran menegaskan pembahasan hanya soal nuklir, sementara AS ingin memperluas ke isu rudal dan milisi regional. Kabar ini sempat menekan harga minyak Brent di bawah US$ 67 per barel sebelum stabil.

“IPOT melihat risiko geopolitik tetap tinggi karena AS pada saat yang sama menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran. Iran menyita kapal tanker kecil di Teluk Persia dan kedua pihak saling melontarkan ancaman. Kami menilai peluang eskalasi serangan terbatas di maritim masih terbuka meski jalur diplomasi berlanjut,” kata Imam dalam keterangannya, Minggu (8/2/2026).

IHSG Berpotensi Lanjut Melemah, Cermati Saham Rekomendasi Analis untuk Selasa (3/2)

Selanjutnya, Imam melihat meredanya ketegangan perang dagang AS-India memberikan sentimen positif bagi ekonomi domestik karena India merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. 

Presiden Donald Trump telah menghapus tarif tambahan 25% dan memangkas tarif resiprokal sehingga tarif efektif turun menjadi 18%.

Sebagai imbalannya, India berkomitmen untuk membatasi impor minyak Rusia, meningkatkan pembelian energi dari AS, serta sepakat membeli produk AS senilai US$ 500 miliar dalam lima tahun. 

Kesepakatan ini juga mencakup penghapusan berbagai hambatan perdagangan di sektor pertanian, manufaktur, kesehatan dan teknologi.

Sementara itu dari domestik, ada sentimen Moody’s yang memangkas outlook Indonesia dan beberapa emiten.

Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, namun menurunkan outlook menjadi negatif karena meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya prediktabilitas serta koordinasi pemerintah yang dinilai berisiko menggerus kredibilitas kebijakan dan kepercayaan investor, meski fundamental ekonomi masih relatif solid dengan pertumbuhan sekitar 5%, defisit fiskal terjaga di bawah 3% PDB, dan rasio utang pemerintah yang tetap rendah.

“Moody’s menyoroti risiko fiskal dari perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang lemah, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar, sementara eskalasi risiko politik dan volatilitas pasar keuangan berpotensi menekan stabilitas makro jika tidak diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang lebih kuat,” jelas Imam.

IHSG Berpeluang Lanjut Rebound Terbatas, Cek Saham Rekomendasi Analis, Rabu (4/2)

Penurunan outlook sovereign Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s berdampak langsung pada penurunan batas atas peringkat (rating cap) berbagai emiten besar, termasuk BUMN seperti Telkom, Pertamina, dan bank-bank utama seperti BMRI, BBRI, BBNI, BBCA dan BBTN. 

Bagi emiten non-BUMN seperti ICBP dan UNTR, risiko meningkat melalui ketergantungan pada stabilitas makro dan akses pendanaan.

Kondisi ini mempersempit ruang kenaikan peringkat serta membuat seluruh kelompok emiten lebih sensitif terhadap potensi penurunan peringkat lebih lanjut jika tekanan fiskal dan ketidakpastian kebijakan terus berlanjut. 

Selain itu, ICBP juga memiliki eksposur utang berdenominasi dolar AS yang digunakan dalam akuisisi Pinehill, sehingga pelemahan stabilitas makro, volatilitas nilai tukar, maupun kenaikan premi risiko negara berpotensi mempengaruhi ICBP.

Selain itu, terdapat sentimen positif dari kinerja ekonomi Indonesia pada tahun 2025 yang mencatat pertumbuhan yang solid sebesar 5,11%, mengungguli capaian tahun sebelumnya.

Saham Bank Pelat Merah Bergerak Fluktuatif saat IHSG Ambruk, Simak Rekomendasi Analis

Capian ini disertai lonjakan signifikan pada triwulan IV sebesar 5,39% (yoy) yang didorong oleh sektor transportasi dan pergudangan. 

Pertumbuhan ini ditopang oleh permintaan domestik yang kuat melalui sektor jasa dan konsumsi digital, aktivitas produksi di zona ekspansi, serta investasi yang masif, termasuk lonjakan belanja modal pemerintah hingga 40,14% (yoy).

Keseluruhan faktor tersebut berhasil menjaga momentum ekspansi ekonomi nasional tetap stabil hingga akhir tahun.

Proyeksi IHSG 

Memasuki perdagangan pekan depan antara 9 Februari–13 Februari 2026, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, China, dan Indonesia yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global maupun domestik. 

Dari Amerika Serikat, data inflasi menjadi sorotan utama dengan proyeksi penurunan ke level 2,5% yoy dari 2,7% yoy pada periode sebelumnya, yang dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed. 

Selain itu, initial jobless claims diperkirakan berada di kisaran 235 ribu, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,4% mencerminkan pasar tenaga kerja yang mulai melandai.

Dari China, pasar akan mencermati rilis data inflasi yang diproyeksikan turun menjadi 0,4% yoy dari 0,8% yoy, mengindikasikan tekanan permintaan domestik yang masih lemah dan ruang kebijakan yang lebih longgar bagi otoritas setempat.

Data ini penting mengingat peran China sebagai mitra dagang utama Indonesia dan pengaruhnya terhadap sentimen komoditas global.

IHSG Berpeluang Bergerak Mixed Cenderung Menguat Kamis (5/2), Ini Rekomendasi Analis

Di dalam negeri, fokus investor tertuju pada rilis penjualan ritel Desember 2025 sebagai indikator daya beli masyarakat menjelang akhir tahun, serta data penjualan mobil Januari 2026 yang akan memberikan gambaran awal mengenai tren konsumsi dan permintaan domestik di awal tahun.

Data-data ini akan menjadi konfirmasi lanjutan atas ketahanan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di luar rilis data ekonomi, pasar juga masih akan mencermati perkembangan kebijakan Moody’s, khususnya dampaknya terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengalami penurunan outlook, mengingat potensi implikasinya terhadap persepsi risiko, biaya pendanaan, dan sentimen investor. 

“Secara keseluruhan, dengan masih tingginya faktor kehati-hatian global dan domestik, pergerakan pasar pada pekan ini diproyeksikan bervariasi cenderung melemah terbatas, dengan level support di 7.716 dan resistance di 8.207,” terang Imam.

Rekomendasi Saham

Imam membagikan sejumlah rekomendasi saham yang layak dicermati untuk perdagangan pekan depan, antara lain:

1. PT Panin Financial Tbk (PNLF)

Rekomendasi: Buy on pullback

Entry: Rp 270-Rp 272

Target harga: Rp 292

Stop loss: Di bawah Rp 260

IHSG Masih Rawan Terkoreksi pada Selasa (3/2), Ini Rekomendasi Analis

2. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)

Rekomendasi: Buy

Entry: Rp 2.080

Target harga: Rp 2.240

Stop loss: Di bawah Rp 2.000

3. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)

Rekomendasi: Buy

Entry: Rp 8.925

Target harga: Rp 9.600

Stop loss: Di bawah Rp 8.600

You might also like