IDEA sebut Kopdes dan e-commerce bisa kolaborasi jadi mitra distribusi sembako

Img AA1XdAtf

Asosiasi E-Commerce Indonesia atau (idEA) menilai program prioritas Prabowo Subianto yakni Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak akan menjadi ancaman bagi e-commerce.

Menurut mereka, keduanya bisa menjadi mitra meski ada e-commerce atau platform digital selama ini memasok kebutuhan pokok ke warung-warung.

“Justru koperasi desa ke depan juga akan butuh digitalisasi dan akses online. Untuk pencatatan, pengadaan barang, manajemen stok, sampai memperluas pasar,” kata Sekretaris Jenderal idEA Budi Primawan kepada Katadata.co.id, Jumat (27/2). 

Budi menilai, kolaborasi semacam ini bisa mempercepat modernisasi koperasi sekaligus menjaga keberlanjutan startup yang sudah membangun infrastruktur distribusi.

Baca juga:

  • Mendag Sebut Keberadaan Kopdes Tak Saingi Ritel Alfamart-Indomaret

Ia menambahkan, pada dasarnya yang paling penting adalah kebijakan dirancang inklusif dan terbuka untuk kolaborasi. “Kalau ekosistemnya sehat dan setara, koperasi bisa tumbuh, startup tetap berinovasi, dan warung serta konsumen desa mendapat manfaat yang lebih besar,” ujar Budi. 

Jika melihat lebih luas, Budi mengatakan koperasi desa dan e-commerce tidak berada di dua kubu yang saling berhadapan. Alasannya, meski model bisnisnya berbeda, keduanya tetap memiliki ruangnya yang bisa saling melengkapi. 

E-commerce fokus di efisiensi distribusi, akses barang yang lebih luas, serta transparansi harga. Koperasi desa fokus pada penguatan ekonomi lokal dan kelembagaan di tingkat desa,” kata Budi. 

Tak Membunuh Ritel

Di sisi lain, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan keberadaan Koperasi Desa Merah Putih juga tidak untuk menyaingi usaha ritel Alfamart-Indomaret yang tersebar di Indonesia. Budi menyatakan telah bertemu dengan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto untuk membahas hal ini.

Mendag menyebut dibangunnya Kopdes bertujuan untuk memberdayakan ekonomi di desa. “Ini kesempatan bagus untuk berkolaborasi dengan minimarket, distributor untuk menyalurkan produknya melalui KDMP,” kata Budi Santoso saat ditemui di kantornya, Kamis (26/2).

Menurutnya skema tersebut mirip dengan kemitraan yang sudah dilakukan oleh toko kelontong. Ritel modern, distributor akan memasok barang ke toko kelontong.

“KDMP kan sangat bagus, bisa berfungsi sebagai minimarket dengan variasi produk lebih banyak. Menyediakan produk alat pertanian, pupuk, obat-obatan,” ujarnya.

Meski target pasar yang dituju sama, namun menurutnya jangkauan koperasi desa lebih luas dibandingkan ritel modern. Budi mengatakan, pemerintah akan tetap bijak dalam mengembangkan keberadaan Koperasi Desa Merah Putih di Indonesia.

“Koperasi Desa Merah Putih bisa lebih proporsional sehingga menjadi lembaga kuat,” ucapnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah menargetkan membangun 30 ribu kopdes hingga Maret 2026. Kementerian Keuangan menganggarkan Rp 90 triliun untuk mencapai target tersebut.

You might also like