
MNCDUIT.COM JAKARTA. Emiten produsen komponen otomotif, PT Darma Polimetal Tbk (DRMA) berupaya meningkatkan kinerja keuangannya pada 2026. Emiten yang terafiliasi dengan Grup Triputra ini menyiapkan sejumlah strategi untuk menangkap peluang di tengah kondisi pasar otomotif nasional yang menantang.
Presiden Direktur Darma Polimetal Irianto Santoso mengatakan, pihaknya membidik pendapatan sebesar Rp 6,5 triliun dan margin laba di atas 10% pada 2026. Target ini ditetapkan berdasarkan asumsi konservatif bahwa kondisi pasar otomotif nasional pada 2026 setidaknya stabil atau setara dengan capaian tahun sebelumnya.
Sebagai kilas balik, per kuartal III-2025 DRMA membukukan penjualan neto sebesar Rp 4,39 triliun atau tumbuh 9,20% year on year (yoy). Pada periode yang sama, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk DRMA naik 1,89% yoy menjadi Rp 419,87 miliar. Mayoritas penjualan neto DRMA per kuartal III-2025 ditujukan ke anak usaha PT Astra International Tbk (ASII), yaitu PT Astra Honda Motor (AHM) sebanyak Rp 2,37 triliun.
Marketing Sales Ciputra Development 2025 Tak Capai Target, Ini Rekomendasi Sahamnya
Lantas, untuk memenuhi target kinerja tahun ini, strategi utama DRMA akan berfokus pada diversifikasi dan perluasan portofolio produk melalui penambahan Stock Keeping Unit (SKU) komponen dan suku cadang yang lebih beragam. Produk-produk komponen buatan DRMA kini tak hanya menyasar kendaraan konvensional, melainkan juga kendaraan hybrid dan listrik.
“Perusahaan secara konsisten memperkuat lini produk kendaraan konvensional dan hybrid sambil mengakselerasi pengembangan komponen khusus kendaraan listrik untuk menangkap ceruk pasar masa depan,” ungkap dia, Rabu (10/2/2026).
Mengutip situs resminya, DRMA telah menyediakan beberapa komponen maupun infrastruktur pendukung kendaraan listrik. Di antaranya adalah battery swap station, battery pack, charging station, portable charging station, hingga drive motor.
Terbaru, pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 DRMA turut resmi menghadirkan produk fast charging station untuk kendaraan listrik dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi. Tak hanya itu, DRMA menghadirkan battery energy storage system yang terintegrasi dengan charging station buatan emiten.
Irianto menegaskan, strategi seperti penambahan dan perluasan produk komponen ini tentu didukung oleh penguatan kemampuan core engineering sejak tahap awal pengembangan bisnis. Hal ini untuk memastikan efisiensi produksi berjalan optimal, sehingga target margin laba tetap terjaga di level yang kompetitif.
Di samping itu, DRMA juga selalu membuka ruang untuk pertumbuhan anorganik melalui akuisisi perusahaan lain jika terdapat prospek strategis yang tepat. Pertimbangan utama DRMA jika hendak melakukan akuisisi yaitu adanya sinergi yang mampu memperkuat rantai pasok atau memperluas portofolio produk.
“Pada akhirnya hal itu akan meningkatkan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Irianto.
Menguat 0,23% Dalam Sepekan, Rupiah Ditutup di Rp 16.836 per Dolar AS
Sebelumnya, pada akhir November 2025 lalu DRMA menuntaskan akuisisi 82% saham PT Mah Sing Indonesia dengan nilai Rp 41 miliar. Mah Sing Indonesia merupakan perusahaan produsen komponen plastik untuk kendaraan bermotor.
Pihak DRMA mengonfirmasi bahwa Mah Sing Indonesia akan mulai dikonsolidasikan secara penuh ke dalam laporan keuangan perusahaan pada 2026. Dengan demikian, akuisisi tersebut diharapkan bisa memberi kontribusi positif terhadap target pendapatan konsolidasi DRMA secara keseluruhan.
Kebutuhan belanja modal
Lebih lanjut, Manajemen DRMA menyediakan capital expenditure (capex) rutin sekitar Rp 350 miliar–Rp 400 miliar setiap tahun. Dana tersebut difokuskan untuk mendukung pengembangan produk baru guna menjaga relevansi dan daya saing perusahaan di pasar.
Untuk tahun 2026, target total capex DRMA ditetapkan minimal sama dengan tahun sebelumnya yaitu Rp 400 miliar. Namun, angka tersebut bersifat dinamis apabila DRMA memutuskan untuk melakukan strategi akuisisi perusahaan baru guna memperluas ekspansi bisnis.
Selama ini, DRMA mengandalkan kekuatan arus kas internal serta dukungan fasilitas perbankan yang tersedia untuk membiayai capex perusahaan di tiap tahun. “DRMA berkomitmen menjaga fleksibilitas keuangan dengan mengoptimalkan struktur modal yang sehat saat ini,” terang dia.
AllianzGI Memandang Pasar Obligasi Indonesia Tetap Menarik
DRMA tentu terus mewaspadai tantangan bisnis yang bisa mempengaruhi kinerja mereka pada 2026. Salah satunya adalah risiko perlambatan industri otomotif nasional, baik akibat dinamika ekonomi makro maupun kebijakan pemerintah yang berisiko menekan daya beli masyarakat.
Tantangan lain yang jadi perhatian bagi DRMA adalah volatilitas nilai tukar rupiah. Ini mengingat, sebagian bahan baku produk komponen DRMA mesti diimpor dari luar negeri. Kendati demikian, selama fluktuasi nilai tukar rupiah tidak ekstrem, maka operasional DRMA tetap berjalan stabil.
“Pelemahan kurs di sisi lain justru memberikan nilai tambah bagi performa ekspor kami yang makin kompetitif di pasar global,” pungkas Irianto.