Di tengah ketegangan global, bisakah kripto jadi safe haven alternatif?

Img AA1CXQt8

MNCDUIT.COM JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih memanas. Pasar keuangan global diguncang oleh serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Dampaknya langsung terasa dengan Selat Hormuz memanas. Harga minyak melonjak tajam dan emas mencetak rekor baru menembus US$ 5.500 per ons troi sebelum saat ini stabil di kisaran US$ 5.300, naik sekitar 80% dalam setahun terakhir.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin menyebut lonjakan signifikan harga emas spot ini menandai salah satu reli aset safe haven terbesar sejak pandemi 2020. Menurutnya, dinamika ini bukan sekadar reaksi emosional pasar sesaat.

“Konflik yang melibatkan Iran secara langsung mengangkat permintaan terhadap aset lindung nilai ke level yang belum pernah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Secara historis, setiap kali terjadi gangguan besar di Selat Hormuz, harga komoditas bergerak jauh melampaui proyeksi konsensus pasar,” ujar Fahmi dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

Lebih Matang, Industri Kripto Indonesia Masuki Fase Konsolidasi

Di tengah gejolak ini, pertanyaan yang muncul adalah apakah Bitcoin dan aset kripto dapat berfungsi sebagai safe haven alternatif. Fahmi memberikan pandangan yang berimbang.

Menurut Fahmi, bitcoin dan beberapa aset kripto berkapitalisasi besar memiliki karakteristik yang menarik sebagai alternatif, mengingat posisi mereka yang tidak terafiliasi dengan negara atau sistem keuangan terpusat mana pun.

“Namun realitanya, mayoritas investor masih memandang kripto sebagai instrumen berisiko (risk-on), sehingga potensi tersebut untuk saat ini masih terbatas,” ungkap Fahmi.

Ia menambahkan, jika narasi pasar bergeser dan kripto mulai dipandang sebagai aset penyimpan nilai layaknya emas, dinamika yang sangat berbeda bisa terjadi.

“Volatilitas yang ada saat ini menarik untuk dimanfaatkan secara aktif bagi investor atau trader berpengalaman. Sementara bagi investor pemula, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) yaitu membeli secara berkala dalam jumlah tetap dapat menjadi pendekatan yang lebih aman dan terukur di tengah ketidakpastian ini,” tambahnya.

Biaya Transaksi Kripto Turun 50% Maret 2026: Investor Untung Besar!

Lebih lanjut di pasar saham AS, dua sektor yang paling diuntungkan dari eskalasi ini adalah energi dan pertahanan. Futures saham ExxonMobil (XOM) dan Chevron (CVX) masing-masing naik sekitar 2% pada perdagangan akhir pekan, dengan kumulatif kenaikan lebih dari 19% sepanjang 2026 seiring menumpuknya premi risiko geopolitik.

Sektor pertahanan bahkan mencatat reli yang lebih agresif. Lockheed Martin (LMT) melonjak 2,5% dalam sehari dan telah naik sekitar 32,4% sepanjang tahun ini, didorong permintaan sistem pertahanan udara Patriot PAC-3 dan proyek Golden Dome pemerintahan Trump.

Northrop Grumman (NOC) naik 1,9% harian dan 23,7% sepanjang tahun, sementara RTX, produsen rudal Patriot dan rudal jelajah yang digunakan langsung dalam operasi di Iran juga mencatat kenaikan 2,5% dalam satu sesi. Secara keseluruhan, ETF iShares US Aerospace & Defense telah naik hampir 14% tahun ini.

“Tren positif di sektor energi dan pertahanan ini berpotensi berlanjut, mengingat ketegangan geopolitik yang masih terus berkembang,” lanjutnya.

Sehingga, investor yang sudah terekspos di sektor ini mungkin perlu mempertimbangkan manajemen risiko yang lebih ketat mengingat valuasi yang mulai tinggi.

Platform Kripto Digital FLOQ Targetkan Pengguna Tembus 3 Juta pada 2026

You might also like