
MNCDUIT.COM Memasuki awal tahun 2026, cukup banyak masyarakat yang mulai melirik saham internasional untuk dibeli.
Akses terhadap bursa saham mancanegara, seperti New York Stock Exchange (NYSE) atau Nasdaq, kini menjadi pilihan diversifikasi portofolio yang menarik bagi masyarakat Indonesia yang ingin memiliki saham di perusahaan teknologi raksasa dunia.
Namun, tingginya potensi imbal hasil dari saham global tentu diikuti dengan risiko yang linear. Oleh karena itu, memahami prosedur investasi yang sesuai dengan regulasi menjadi faktor krusial bagi investor agar terhindar dari platform ilegal atau penipuan yang mengatasnamakan broker internasional.
Dana Darurat 2026: 6 Bulan Tak Cukup! Waktunya Target Dana Darurat 12 Bulan
Mekanisme Legalitas Investasi Saham Global
Di Indonesia, setiap platform yang menawarkan jasa jual beli saham luar negeri wajib beroperasi di bawah payung hukum yang jelas.
Menurut informasi yang dilansir dari laman Sahabat Pegadaian, investor dapat mengakses pasar modal global melalui broker lokal yang telah bekerja sama dengan pialang internasional.
Broker lokal tersebut harus memiliki izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) jika menawarkan kontrak berjangka saham luar negeri.
Langkah ini penting untuk memastikan bahwa dana nasabah dikelola secara transparan dan memiliki kepastian hukum jika terjadi sengketa.
Selain melalui jalur broker lokal yang terafiliasi, investor berpengalaman sering kali menggunakan broker asing yang teregulasi oleh otoritas global seperti Securities and Exchange Commission (SEC) di Amerika Serikat.
Cara Membeli Saham Luar Negeri
Bagi investor pemula yang baru ingin memulai ekspansi portofolio ke pasar global, prosesnya kini jauh lebih sederhana berkat kemajuan teknologi finansial.
Ada beberapa tahapan teknis yang harus dilalui investor untuk memulai transaksi saham secara legal dan aman:
Keunggulan dan Risiko yang Perlu Diwaspadai
Diversifikasi ke saham luar negeri menawarkan eksposur terhadap industri yang mungkin belum tersedia secara luas di bursa domestik, seperti industri semikonduktor canggih atau kendaraan listrik global.
Mengutip Gotrade Indonesia, salah satu daya tarik utama bagi investor ritel Indonesia adalah fitur fractional shares atau kepemilikan saham pecahan.
Tonton: MKMK Beri Surat Peringatan untuk Anwar Usman karena Banyak Absen Sidang
Dengan fitur ini, investor tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk membeli saham perusahaan besar yang harganya mencapai ribuan dolar per lembar.
Sebagai ilustrasi, saham dengan harga US$ 3.000 atau sekitar Rp 50.100.000 dapat dimiliki mulai dari nominal US$ 1 saja.
Meski demikian, terdapat beberapa risiko sistemik yang tetap harus diperhatikan oleh para pelaku pasar, antara lain:
Tips Berinvestasi Aman di Tahun 2026
Investor sangat disarankan untuk selalu mengecek daftar hitam atau alert list yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Bappebti secara berkala.
Hal ini untuk memastikan bahwa platform yang digunakan tidak sedang dalam pengawasan atau memiliki masalah administratif yang dapat merugikan nasabah.
Selain itu, pastikan Anda memahami profil risiko pribadi sebelum menempatkan dana pada saham kategori growth stocks yang memiliki volatilitas tinggi.
Memiliki pemahaman fundamental mengenai bisnis perusahaan luar negeri yang dibeli tetap menjadi strategi terbaik dalam investasi jangka panjang.
Kehadiran berbagai aplikasi investasi resmi di Indonesia pada tahun 2026 ini memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk lebih inklusif terhadap pasar keuangan global, asalkan tetap memegang teguh prinsip kehati-hatian dan legalitas.