MNCDUIT.COM JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar energi global. Ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak. Karena itu, Maybank Sekuritas Indonesia menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim, menilai arah harga minyak ke depan sangat bergantung pada apakah konflik akan terus meluas atau justru mereda dalam waktu dekat.
Menurut Jeffrosenberg, eskalasi tidak lagi terbatas pada poros Israel–AS–Iran, tetapi mulai merambah produsen Teluk lainnya seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Kondisi ini meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan global.
Wall Street Anjlok 2% Selasa (3/3), Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi
“Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia serta volume LNG yang signifikan tetap menjadi titik krusial. Gangguan berkepanjangan di jalur ini akan memperketat pasar energi secara material,” ujar Jeffrosenberg.
Meski demikian, Jeffrosenberg mengingatkan bahwa secara historis, ketegangan serupa biasanya berlangsung dalam hitungan minggu, bukan bulan, sehingga peluang de-eskalasi tetap terbuka. Daya tahan harga minyak di level tinggi, lanjutnya, akan sangat ditentukan oleh lamanya gangguan, volume pasokan yang terdampak, serta kecepatan suplai pengganti dari OPEC+, Amerika Serikat, maupun cadangan strategis global.
“Dengan ketidakpastian yang masih tinggi—apakah Iran kembali ke meja perundingan, AS meningkatkan tekanan, atau konflik meluas secara regional—kami menilai terlalu dini untuk mengambil posisi agresif, terutama setelah reli tajam harga minyak,” kata Jeffrosenberg. Ia juga menyarankan investor untuk tidak terburu-buru mengejar kenaikan saham energi hulu saat pembukaan perdagangan karena pergerakan berbasis sentimen biasanya sangat volatil.
Dari sisi domestik, Jeffrosenberg menilai lonjakan harga minyak yang berkelanjutan berpotensi menjadi sentimen negatif bagi Indonesia dalam jangka pendek. Sebagai net importir minyak, kenaikan harga minyak mentah dapat memperlebar defisit neraca migas, meningkatkan tekanan subsidi BBM, serta berpotensi memperlebar defisit fiskal apabila harga ritel tidak sepenuhnya disesuaikan.
Selain itu, tekanan terhadap neraca berjalan dan inflasi impor berisiko mendorong depresiasi rupiah. Risiko ini akan semakin terasa apabila kenaikan harga minyak tidak diimbangi oleh penguatan harga komoditas ekspor utama Indonesia seperti CPO dan batu bara.
“Tanpa kompensasi dari kenaikan harga komoditas andalan, keseimbangan fiskal dan eksternal akan menghadapi tekanan yang lebih besar,” jelas Jeffrosenberg.
Namun dalam jangka menengah hingga panjang, prospeknya dinilai lebih konstruktif apabila tema “war on resources” atau perebutan sumber daya terus menguat. Indonesia, sebagai negara kaya sumber daya seperti nikel, tembaga, emas, dan batu bara, dinilai berada pada posisi strategis di tengah fragmentasi geopolitik dan realokasi rantai pasok global.
Dalam kondisi saat ini, Maybank Sekuritas Indonesia merekomendasikan strategi lindung nilai terhadap risiko eskalasi Timur Tengah melalui eksposur selektif pada saham batu bara seperti ADRO, AADI, ITMG, dan INDY; CPO seperti LSIP dan TAPG; serta jasa migas seperti ELSA dan WINS.
Jeffrosenberg menjelaskan, CPO berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga minyak melalui dinamika substitusi biofuel, sementara emiten jasa ladang minyak biasanya mencatat peningkatan aktivitas dan ekspansi margin saat harga minyak bertahan tinggi.
Sebaliknya, ia menyarankan kehati-hatian pada saham konsumer yang berasosiasi dengan merek Barat seperti UNVR, FAST, MAPB, dan MAPA, yang berpotensi terdampak sentimen boikot konsumen. Saham-saham sensitif suku bunga seperti BMRI, BBCA, BBRI, BRIS, BNGA, SMRA, CTRA, dan BSDE juga diperkirakan mengalami volatilitas jangka pendek.
Meski demikian, ia menilai penyangga makroekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk membatasi lonjakan tajam imbal hasil obligasi, mengingat perbankan saat ini lebih menghadapi kendala permintaan kredit ketimbang masalah likuiditas.
Di sisi lain, Maybank melihat setiap koreksi harga pada logam industri sebagai peluang akumulasi dalam kerangka multi-tahun “war on resources”. Permintaan tembaga diproyeksikan tumbuh sekitar 3%–4% per tahun hingga 2030, didorong adopsi kendaraan listrik yang menggunakan 3–4 kali lebih banyak tembaga dibanding kendaraan konvensional ekspansi jaringan listrik, serta kebutuhan daya berbasis AI.
Untuk nikel, kekhawatiran surplus mulai bergeser ke potensi pengetatan pasokan ke depan, terutama setelah Indonesia memangkas kuota RKAB 2026 menjadi sekitar 260 juta–270 juta ton dari 379 juta ton pada 2025. Sementara itu, emas tetap dipandang sebagai lindung nilai strategis di tengah eskalasi geopolitik dan diversifikasi cadangan bank sentral global dari dolar AS.
Yield SBN Naik, Asing Catat Net Sell Rp 3,35 Triliun per Februari, Apa Penyebabnya?
“Dalam konteks ini, kami akan mengakumulasi produsen logam industri dan logam mulia saat terjadi pelemahan harga, termasuk INCO, ANTM, dan MEDC yang memiliki eksposur tidak langsung ke tembaga dan emas melalui AMMN,” tutup Jeffrosenberg.