Dana asing berpotensi keluar, IHSG rentan volatil di tengah konflik Timur Tengah

Img AA1u58bk

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Eskalasi konflik Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel bakal meningkatkan tekanan terhadap pasar saham global, termasuk Indonesia. Sentimen risk-off mendorong investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko sehingga berpotensi menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek.

Pengamat pasar modal Irwan Ariston menilai lonjakan risiko geopolitik hampir selalu diikuti penurunan aliran dana asing di emerging market. Struktur pasar saham Indonesia yang masih dipengaruhi investor global membuat tekanan jual biasanya cepat tercermin pada indeks.

“Ketika risiko global meningkat, investor asing biasanya menurunkan eksposur di emerging market. Karena dana asing masih dominan di saham big caps, tekanan jual bisa langsung terasa pada IHSG,” jelas Irwan kepada Kontan, Senin (2/3/2026).

IHSG Dibayangi Konflik Timur Tengah, Sektor Energi Bisa Jadi Penopang

Irwan menambahkan, apabila sentimen risk-off berkembang menjadi fase panic, koreksi pasar umumnya terjadi cepat namun tidak berlangsung lama. Setelah valuasi kembali menarik dan fundamental domestik stabil, arus dana asing berpeluang kembali masuk secara bertahap.

Menurut Irwan, kondisi geopolitik juga mendorong rotasi sektor di pasar saham. Dana investor cenderung keluar dari saham growth dan berpindah ke sektor berbasis komoditas.

“Sektor yang rentan biasanya perbankan besar, consumer cyclicals, dan properti. Sebaliknya, energi serta saham komoditas dan emas justru berpotensi diuntungkan,” jelasnya.

Irwan memperkirakan IHSG akan bergerak volatil dengan bias melemah selama ketidakpastian global masih tinggi. Area support teknikal menjadi level krusial untuk dicermati pelaku pasar. Jika ditembus disertai net sell asing yang konsisten, koreksi berpotensi berlanjut.

Rekomendasi Saham

Sementara itu, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai eskalasi konflik mendorong investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas, sehingga meningkatkan tekanan volatilitas di pasar domestik.

“Dalam jangka pendek, arus dana asing berpotensi tertekan dan membuat IHSG lebih sensitif terhadap dinamika global, meski fundamental makro Indonesia relatif stabil,” paparnya.

Harga Saham Emiten Emas Menguat di Tengah Konflik Israel-AS dan Iran

Abida memperkirakan aksi net sell asing dapat memicu koreksi indeks lebih dari 2,5% dalam waktu singkat apabila disertai lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS. Tekanan biasanya paling terasa pada saham berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak utama indeks.

Abida menilai rotasi sektoral berpeluang terjadi, di mana saham berbasis komoditas dan energi menjadi lebih resilien di tengah volatilitas tinggi.

Dalam kondisi pasar saat ini, kata dia, strategi defensif dan selektif dinilai lebih relevan. Investor dapat mencermati saham komoditas logam seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BUMI) yang berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga emas dan mineral.

Selain itu, saham energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), serta PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) juga dinilai menarik dicermati seiring potensi kenaikan harga minyak global.

Abida merekomendasikan saham ANTM dengan target Rp 4.800, ARCI Rp 2.500, MEDC Rp 2.000, dan BRMS Rp 1.200.

Ia menekankan, di tengah dinamika arus dana asing, kunci utama bagi investor adalah menjaga manajemen risiko serta melakukan akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat saat terjadi koreksi berlebihan.

Serangan AS ke Iran Picu Aksi Risk-Off, Cermati Efeknya & Saham Rekomendasi Analis

You might also like