
Menteri ESDM atau Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan Pemerintah Indonesia berencana memperpanjang izin operasi atau kontrak ExxonMobil hingga 2055. Operator wilayah kerja (WK) Cepu ini merupakan salah satu perusahaan migas yang berasal dari Amerika Serikat (AS).
Bahlil menyebut ExxonMobil sudah beroperasi lebih dari 100 tahun di Indonesia. “Kami akan memperpanjang (kontrak) sampai 2055 dengan total investasi US$ 10 miliar (Rp 168,6 triliun),” kata dia dalam konferensi pers daring, Jumat (20/2).
WK Cepu mempunyai jangka waktu kontrak 17 September 2005 sampai 17 September 2035. WK ini memiliki skema bagi hasil Cost Recovery.
Lapangan pada WK Cepu antara lain Banyu Urip, Kedung Keris, dan Unitisasi Jambaran-Tiung Biru, dengan cadangan untuk minyak bumi 344,63 million stock tank barrels (MSTB) dan gas 1.201,26 miliar standar kaki kubik (BSCF).
Perpanjangan kontrak ini sedang dilakukan antara pemerintah Indonesia dengan ExxonMobil. Bahlil menyebut rencana ini belum selesai, karena masih ada beberapa hal yang perlu dibicarakan, salah satunya terkait porsi kontrak bagi hasil antara pemerintah Indonesia dengan KKKS yakni Exxon.
“Sharing cost recovery antara pendapatan negara dan KKKS. Sebentar lagi selesai,” ujarnya.
Kendati demikian, Bahlil tidak memerinci kapan pembicaraan perpanjangan kontrak Exxon itu ditargetkan selesai. Ia hanya menyampaikan bahwa komunikasi antara pemerintah dan Exxon merupakan bagian dari hubungan bilateral antara pihak swasta, pemerintah Indonesia, serta termasuk di dalamnya pemerintah AS.
Dia mengatakan Exxon merupakan salah satu penyumbang produksi minyak bumi terbesar di Indonesia. Total produksinya 170 ribu – 185 ribu barel per hari (bph) per hari ini.
Tidak hanya Exxon, pemerintah Indonesia juga sepakat untuk memperpanjang izin usaha pertambangan khusus (IUPK) PT Freeport Indonesia periode 2041-2061.
Rencana Investasi Exxon di Cepu
Bahlil sebelumnya meminta ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) untuk meningkatkan jumlah produksi minyak bumi 150 ribu bph pada 2026. Ada tiga lapangan yang akan dikembangkan dengan investasi US$ 472,4 juta atau Rp 7,15 triliun.
EMCL sebelumnya menargetkan produksi minyak sebesar 125 ribu bph dalam dua tahun kedepan. Namun, Bahlil yakin EMCL dapat memproduksi minyak lebih banyak dibandingkan jumlah yang ditargetkan dengan kemampuan teknologi yang dimiliki. Peningkatan ini dapat didukung dari optimalisasi lapangan minyak sekitar Cepu.
“Di sekitar sana ada beberapa sumur yang memang belum dieksplorasi. Saya minta mereka untuk mengebor agar cadangan minyak bisa bertambah,” kata Bahlil saat ditemui usai peresmian Proyek Pipa Cisem Tahap II di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah, pada September 2024.