Harga minyak dunia stabil, pasar cermati ketegangan Iran-AS dan data ekonomi AS

Img BB1dQhDm

MNCDUIT.COM  NEW YORK. Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa (10/2/2026), seiring pelaku pasar menanti arah baru dari perkembangan geopolitik Iran–Amerika Serikat, Rusia, serta rilis data ekonomi dan persediaan minyak Amerika Serikat.

Harga minyak Brent naik tipis 27 sen atau 0,4% ke level US$69,31 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 12 sen atau 0,2% menjadi US$64,48 per barel.

Analis minyak PVM, Tamas Varga, menilai perhatian pasar masih tertuju pada ketegangan Iran dan AS. Namun, tanpa tanda nyata gangguan pasokan, harga minyak berpotensi melemah.

“Selama belum ada bukti konkret gangguan suplai, harga cenderung turun,” ujarnya.

Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Tengah Rumor Serangan AS ke Venezuela

Dari sisi diplomasi, Iran menyatakan pembicaraan nuklir dengan AS menunjukkan keseriusan Washington dan cukup membuka peluang untuk melanjutkan jalur diplomatik.

Pekan lalu, perwakilan kedua negara menggelar pertemuan tidak langsung di Oman dengan mediator setempat, di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan.

Kekhawatiran pasar sempat meningkat setelah otoritas maritim AS mengimbau kapal niaga berbendera AS menjauhi perairan teritorial Iran.

Sekitar 20% konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan Oman dan Iran. Eskalasi di wilayah ini dinilai berisiko besar terhadap pasokan minyak dunia, mengingat sebagian besar ekspor minyak Iran dan negara OPEC lain seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak melalui jalur tersebut, terutama ke Asia.

Harga Minyak Dunia Menguat Sepekan, Pasar Cermati Stagnasi Perdamaian Ukraina

Analis IG Tony Sycamore menilai, meski pembicaraan di Oman bernada hati-hati positif, premi risiko tetap bertahan akibat ketidakpastian eskalasi, pengetatan sanksi, atau potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC pada 2025, setelah Arab Saudi dan Irak.

Dari Eropa, Uni Eropa berencana memperluas sanksi terhadap Rusia dengan menyasar pelabuhan di Georgia dan Indonesia yang menangani minyak Rusia.

Langkah ini menjadi upaya baru menekan pendapatan Rusia terkait perang di Ukraina. Di sisi lain, India dilaporkan mengurangi pembelian minyak Rusia dan beralih ke pasokan Afrika Barat serta Timur Tengah, seiring dorongan kesepakatan dagang dengan AS.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan proses perundingan damai Ukraina masih panjang, sehingga belum ada alasan untuk terlalu optimistis terhadap tekanan AS. Rusia sendiri tercatat sebagai produsen minyak terbesar ketiga dunia pada 2025, di bawah AS dan Arab Saudi.

Harga Minyak Dunia Naik Tipis, Tertahan oleh Lonjakan Stok AS

Dari faktor ekonomi, data menunjukkan penjualan ritel AS stagnan pada Desember, menandakan perlambatan konsumsi dan pertumbuhan ekonomi di awal tahun.

Investor kini menanti rilis data ketenagakerjaan dan inflasi AS pekan ini untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Di pasar energi, perhatian juga tertuju pada data persediaan minyak AS. Analis memperkirakan stok minyak mentah AS turun sekitar 3,5 juta barel pekan lalu.

Jika terealisasi, ini menjadi penarikan stok selama tiga pekan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Juni 2025, berbanding terbalik dengan kenaikan stok pada periode yang sama tahun lalu.

You might also like