
MNCDUIT.COM JAKARTA. Harga saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) naik setelah perusahaan ini mengumumkan pembelian kembali alias buyback saham pada 22 Januari 2026. Pada tanggal 23 Januari 2026, harga saham ERAA naik 5,88% di level Rp 432 per saham
Namun di akhir pekan lalu (30/1/2026), harga saham ERAA kembali berada di level Rp 396 per saham, naik 1,02% dari hari sebelumnya.
Emiten yang bergerak di bidang impor, distribusi dan perdagangan ritel perangkat telekomunikasi ini mengungkapkan menganggarkan dana buyback saham sebesar Rp 150 miliar.
Ini Arti Saham Gorengan Menurut Bos Investasi Danantara
Manajemen ERAA dalam keterbukaan informasi di BEI menjelaskan jika jumlah saham yang dibeli kembali alias buyback saham sebesar 7,5%. Rencananya, ERAA melakukan buyback saham dari 23 Januari sampai dengan 23 April 2026.
Selain komitmen ERAA dalam buyback saham. Analis Samuel Sekuritas Equity Research Analyst Samuel Sekuritas Jonathan Guyadi menilai prospek saham ERAA berada di jalur cepat untuk terus tumbuh. Ini didukung ekspansi gerai serta akuisisi merek di segmen dengan pertumbuhan cepat, terutama Active Lifestyle dan sektor lain termasuk kendaraan listrik (EV) melalui XPENG.
“Jumlah gerai meningkat menjadi 2.322 unit, bertambah 633 outlet atau naik 37,5% sejak akhir 2022, yang akan menjadi basis pertumbuhan ERAA dalam dua tahun ke depan,” tulis Jonathan dalam risetnya, Senin (26/1/2026).
Di sisi segmen bisnis, perusahaan telah masuk ke pasar kendaraan listrik dengan menjadi agen pemegang merek tunggal XPENG di Indonesia serta menghadirkan lini perakitan pertama XPENG di luar China.
Sementara pada portofolio Active Lifestyle, merek baru yang diperkenalkan antara lain Wilson dan Under Armour. Jonathan bilang bahwa ERAA menargetkan segmen-segmen dengan pertumbuhan tinggi ini dapat menyumbang sekitar 25%–30% dari total pendapatan dalam beberapa tahun ke depan, naik dari kontribusi 16,1% pada sembilan bulan pertama tahun 2025.
Dalam beberapa tahun ke depan, ERAA diperkirakan akan membuka bersih sekitar 100–150 gerai per tahun, terdiri dari 50–60 gerai ERAA Lifestyle dan 30–40 gerai Food & Nourishment (FnR) setiap tahun.
Ada 8 Rencana Reformasi OJK: Free Float Emiten 15% hingga Penguatan Tata Kelola
Dari sisi profitabilitas, EBIT (Earnings Before Interest and Taxes) diproyeksikan tumbuh dengan CAGR (Compound Annual Growth Rate) lima tahun sebesar 18% pada periode 2025–2030.
Proyeksi ini didukung oleh tren peningkatan penjualan ponsel di segmen harga lebih tinggi, perbaikan komposisi bisnis dalam jangka menengah, dan peningkatan leverage operasional melalui efisiensi biaya operasional.
Meski demikian, ERAA tetap menghadapi sejumlah risiko, antara lain potensi melemahnya daya beli dan pertumbuhan penjualan gerai yang tidak sesuai ekspektasi, tekanan akibat pelemahan rupiah, serta risiko geopolitik yang berpotensi menghambat impor produk perusahaan.
Jonathan merekomendasikan buy saham ERAA dengan target harga Rp 800 per saham.