MNCDUIT.COM – JAKARTA. Pasar obligasi korporasi diramalkan terus menunjukkan kinerja positif hingga akhir 2025, didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga.
Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst PEFINDO, melihat prospek pasar obligasi akan tetap relatif stabil hingga penghujung tahun. Menurutnya, meski ada sedikit gejolak jangka pendek, terutama yang dipicu oleh sentimen pasar surat utang pemerintah, hal tersebut tidak akan menggoyahkan fundamental pasar obligasi yang kuat tahun ini.
“Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kinerja pasar obligasi korporasi hingga akhir tahun diperkirakan akan jauh lebih baik,” ungkap Ahmad kepada Kontan, Jumat (28/11).
Ahmad menjabarkan prospek cerah obligasi korporasi dari dua sudut pandang: yield dan penerbitan surat utang. Yield obligasi korporasi berperingkat AAA dengan tenor 3 tahun telah menyentuh angka di bawah 6%, sebuah penurunan signifikan dibandingkan akhir tahun lalu yang masih berada di atas 7%. Sementara itu, yield untuk tenor 5 tahun juga telah turun ke kisaran 6,2% – 6,5%, lebih rendah dibandingkan posisi menjelang akhir tahun sebelumnya di sekitar 7,3% – 7,5%.
BBRI dan BUMI Terbanyak, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing Sepekan Terakhir
Lingkungan yield yang lebih rendah ini memungkinkan perusahaan untuk menawarkan kupon yang lebih rendah, yang berdampak positif pada penurunan biaya pendanaan dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini menjadi katalis bagi perusahaan untuk mencari pendanaan dari pasar surat utang, baik untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, investasi, maupun refinancing.
“Selain itu, penurunan yield secara otomatis meningkatkan harga obligasi korporasi (keduanya memiliki hubungan terbalik). Oleh karena itu, potensi capital gain bagi investor juga meningkat signifikan jika dibandingkan dengan awal tahun,” jelas Ahmad.
Dari sisi penerbitan surat utang, Ahmad mencatat lonjakan yang cukup signifikan. Realisasi penerbitan surat utang melalui penawaran umum telah mencapai Rp 198,81 triliun hingga akhir November 2025. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 126,73 triliun. Perusahaan memanfaatkan momentum suku bunga yang lebih rendah tahun ini untuk menerbitkan surat utang dengan biaya yang lebih terjangkau, sehingga memungkinkan mereka untuk memperbaiki struktur keuangan.
Ahmad menambahkan, per 27 November 2025, yield SUN 3 tahun berada di level 5,21%. Ia memperkirakan yield SUN 3 tahun akan berada di kisaran 4,9% – 5,4% pada akhir tahun. Kemudian, premi yield untuk peringkat AAA dengan tenor 3 tahun diperkirakan akan berkisar antara 30 basis poin (bps) hingga 65 basis poin.
“Dengan demikian, pada akhir tahun, yield obligasi korporasi berperingkat AAA tenor 3 tahun kemungkinan akan ditutup di kisaran 5,2% hingga 6,1%. Trennya bahkan bisa lebih rendah jika ada pemangkasan suku bunga. Namun, jika tidak ada pemangkasan, kemungkinan besar yield akan ditutup pada titik tengah dari rentang tersebut,” jelas Ahmad.
Lebih lanjut, Ahmad mengidentifikasi beberapa sentimen yang akan memengaruhi prospek pasar surat utang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pertama, pertumbuhan ekonomi domestik. Pefindo optimistis bahwa ekonomi akan tumbuh lebih kuat, seiring dengan implementasi kebijakan-kebijakan pro-growth dari pemerintah dan otoritas terkait, yang pada gilirannya akan mendorong kebutuhan pendanaan untuk modal kerja dan investasi.
Kedua, suku bunga domestik. Suku bunga yang lebih rendah di masa depan akan menurunkan biaya pendanaan dan memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi, yang keduanya akan menjadi sentimen positif bagi prospek penerbitan obligasi korporasi.
Ketiga, yield obligasi pemerintah. Karena menjadi acuan (benchmark) bagi penetapan harga obligasi korporasi, volatilitas yield obligasi pemerintah juga akan berdampak pada obligasi korporasi. Oleh karena itu, kekhawatiran atau sentimen terkait kebijakan The Fed, kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump, geopolitik, nilai tukar, serta defisit anggaran pemerintah Indonesia akan menjadi sentimen tidak langsung yang memengaruhi kinerja obligasi korporasi.
Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, memperkirakan bahwa penerbitan obligasi korporasi masih memiliki potensi untuk terus berlanjut hingga akhir tahun, terutama di sektor keuangan dan perbankan, yang memiliki rekam jejak yang kuat dalam penerbitan obligasi untuk keperluan refinancing maupun modal kerja.
Ramdhan menambahkan bahwa yield obligasi korporasi sangat dipengaruhi oleh peringkat (rating), sektor industri, durasi (tenor), dan rekam jejak penerbit di pasar. Ia memproyeksikan bahwa obligasi korporasi dengan peringkat A dan tenor lima tahun akan berada di kisaran 7%–8% pada akhir tahun.
“Rekam jejak (historical) obligasi mereka di pasar memengaruhi tingkat kepercayaan investor dan kemampuan perusahaan dalam mengelola utang di pasar,” pungkas Ramdhan.
Saham OPMS Menguat Tajam Jelang RUPS, Rumor Masuknya Investor Strategis Mencuat
Pasar obligasi korporasi diproyeksikan tetap positif hingga akhir 2025, didorong ekspektasi penurunan suku bunga. Analis PEFINDO melihat prospek stabil, dengan kinerja lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, didukung penurunan yield obligasi korporasi berperingkat AAA. Kondisi ini mendorong perusahaan menerbitkan surat utang dengan biaya lebih rendah untuk modal kerja, investasi, dan refinancing.
Penerbitan surat utang meningkat signifikan, mencapai Rp 198,81 triliun hingga akhir November 2025. Pertumbuhan ekonomi, suku bunga domestik, dan yield obligasi pemerintah menjadi faktor yang memengaruhi pasar. Obligasi korporasi sektor keuangan dan perbankan diperkirakan akan terus diterbitkan, dengan yield sangat dipengaruhi oleh peringkat, sektor industri, tenor, dan rekam jejak penerbit.