MNCDUIT.COM – JAKARTA. Nilai tukar rupiah menunjukkan performa yang beragam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Selasa (30 September 2025).
Di pasar spot, mata uang Garuda ini terapresiasi tipis sebesar 0,09% ke level Rp 16.665 per dolar AS. Namun, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia justru mencatat pelemahan rupiah sebesar 0,07% ke level Rp 16.692 per dolar AS.
Lukman Leong, seorang analis mata uang dan komoditas dari Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa penguatan rupiah yang terbatas ini didorong oleh melemahnya dolar AS. Pelemahan dolar sendiri dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi “shutdown” pemerintahan AS.
“Penguatan ini cenderung terbatas karena investor masih bersikap wait and see, terutama menantikan rilis data penting terkait kondisi ketenagakerjaan AS pada pekan ini,” ungkap Lukman.
Rupiah Melemah pada Selasa (22/9), Simak Proyeksinya untuk Rabu (24/9/2025)
Lebih lanjut, Lukman menyoroti bahwa meskipun dolar AS sedang tertekan, ruang penguatan rupiah tetap terbatas. Hal ini disebabkan sentimen domestik yang belum sepenuhnya pulih.
Investor saat ini juga menanti rilis serangkaian data ekonomi penting, termasuk data manufaktur, inflasi, dan neraca perdagangan. Untuk hari Rabu (1 Oktober), Lukman memprediksi rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 16.600 – Rp 16.700 per dolar AS.
Sementara itu, pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti langkah-langkah intervensi yang terus dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). BI aktif menggunakan berbagai instrumen intervensi, baik di pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN), maupun di pasar luar negeri melalui intervensi NDF di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika.
Ibrahim menambahkan bahwa pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh laporan terbaru dari Asian Development Bank (ADB) yang merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. ADB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2025 dari 5% menjadi 4,9%, serta untuk tahun 2026 dari 5,1% menjadi 5%.
“ADB menjelaskan bahwa ketidakpastian dalam perdagangan global dan tingginya tarif resiprokal yang diterapkan oleh Amerika Serikat berdampak negatif terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia,” jelas Ibrahim.
Begini Proyeksi Rupiah untuk Hari Ini (24/9), Cek Sentimennya
Selain memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi, ADB juga menurunkan proyeksi inflasi Indonesia pada tahun 2025 dari 2% menjadi 1,7%. Sementara itu, proyeksi inflasi untuk tahun 2026 tetap stabil di level 2%.
Proyeksi dari ADB ini lebih rendah dari asumsi pemerintah yang menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% pada tahun 2025 dan 5,4% pada tahun 2026.
Dari sisi eksternal, pernyataan dari Presiden AS Donald Trump turut memberikan tekanan tambahan pada rupiah.
Trump mengumumkan rencana penerapan tarif sebesar 10% untuk kayu dan papan kayu impor, serta bea masuk sebesar 25% untuk furnitur dan produk interior rumah. Kebijakan ini merupakan bagian dari serangkaian tarif baru yang dikenakan terhadap mitra dagang global.
Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp 16.679 Per Dolar AS pada Hari Ini (24/9)
Ibrahim memperkirakan bahwa pada hari Rabu (1 Oktober), nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan potensi ditutup melemah di kisaran Rp 16.660–Rp 16.710 per dolar AS.
Pada Selasa (30 September 2025), nilai tukar rupiah menunjukkan pergerakan beragam terhadap dolar AS; terapresiasi tipis 0,09% di pasar spot namun melemah 0,07% berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia. Penguatan terbatas ini terutama didorong oleh pelemahan dolar AS akibat kekhawatiran “shutdown” pemerintah AS, tetapi investor masih bersikap “wait and see” menantikan data ketenagakerjaan AS. Untuk hari Rabu (1 Oktober), analis memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.600 – Rp 16.710 per dolar AS, dengan potensi ditutup melemah.
Ruang penguatan rupiah juga dibatasi oleh sentimen domestik yang belum sepenuhnya pulih dan penantian rilis data ekonomi penting. Bank Indonesia aktif melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan rupiah. Selain itu, Asian Development Bank (ADB) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi Indonesia untuk tahun 2025 akibat ketidakpastian perdagangan global dan tarif AS. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait penerapan tarif impor baru turut memberikan tekanan eksternal pada pergerakan rupiah.